Seminggu kemarin saya pulkam, ini adalah hari pertama saya masuk kerja kembali. Nggak ada acara khusus, mending pulkam sebelum ganti nama jadi "Bang Toyib" soalnya nggak pulang2. Alasan lainnya adalah: mumpung bisa (atau boleh) cuti, bukannya sok jadi orang penting sama kantor nggak boleh cuti, justru setahu saya makin penting orang makin gampang dia ngajuin cuti. Cuti ya cuti saja, kalau perlu apa2 tinggal dikontak, toh ada BlackBerry (atau perangkat yang semacam itu), sementara saya beberapa kali mengajukan cuti ada saja ini-itunya. Ya dari kantor, ya dari saya sendiri, biasanya kalau ada teman yang sudah beberapa kali cuti bertanya "ngga cuti lo Ri?" saya jawab "ngga... ngga boleh nih" masih bertanya lagi "ngga boleh sama sapa, kan cuti hak lo?" jawaban paling jitu adalah "ngga boleh sama keadaan".
Pulang ke JogjaBerangkat hari Sabtu (6/6/09) naik kereta bisnis Senja Utama dari Stasiun Pasar Senen jam 19:20, jadwal sampai Stasiun Tugu Jogja jam 04:27 tapi sampainya molor ke sekitar jam 6. Nggak masalah, yang penting selamat. Begitu masuk kereta mulai keringatan, maklum kereta kelas non-eksekutif, nggak ada ACnya. Mau beli tiket kereta eksekutif kok mahal, sudah ambil kereta malam maksudnya biar nggak sepanas kalau jalan siang, kok tetap saja setiap kereta behenti rasanya gerah. Begitu duduk eh tempat duduk sebelah saya masih kosong, saya berharapnya yang duduk di sebelah cewek cantik masih single dan tau sendiri lah kelanjutan ceritanya gimana... standar sinetron banget nggak sih? Begitu kereta jalan saya berpikir "walah... sendirian nih. ya wis tidur aja" eh ternyata setelah Stasiun Jatinegara ada temannya juga. Sayangnya bukan cewek cantik single seperti yang saya harapkan tapi ibu2... yang setelah ngobrol beberapa saat ternyata beliau ini ke Jakarta nengok anaknya dan malam itu akan pulang kembali ke Jogja. Dan ternyata bahasa Jawa kromo hinggil saya, bahasa Jawa high-level yang seharusnya digunakan untuk berbicara ke orang yang lebih tua atau dihormati, masih lumayan, bukan sok gara2 sudah lama di Jakarta terus lupa bahasa Jawa lho ya, tapi dari kecil kromo hinggil jarang saya gunakan soalnya susah!
Ibu2: Permisi mas...
Saya: Silahkan bu... *sambil senyum dan mengangguk lalu berpikir "yah... kok ibu2 sih"*
Ibu2: Mau ke Jogja ya mas?
Saya: Iya bu... ibu juga? *pikir saya: ya eyaaa lah... namanya juga Senja Utama Jogja!*
Ibu2: Iya mas... mas asli Jogja ya?
Saya: Nggih bu... Ibu Jogjane pundhi? (Iya bu... Ibu Jogjanya mana?)
Ibu2: Bantul mas, daerah pesisir. Mas Jogjane ting pundhi nggih? (Bantul mas, di daerah pesisir. Mas Jogjanya dimana ya?) *sambil agak heran... kelihatannya heran soalnya hari gini ada anak muda bisa kromo hinggil*
Saya: Sami bu, Bantul, tapi mboten tebih saking Jogja. Kidulipun Ring Road. Pas
gempa ndaleme pripun bu? (Sama bu, Bantul, tapi nggak jauh dari Jogja. Selatannya Ring Road. Pas gempa rumahnya gimana bu?)
Ibu2: Mboten nopo2 mas (Nggak kenapa2 mas)
Ealah ternyata sama2 wong ndeso... Ngobrol ini-itu, berapa tahun di Jakarta, kerja dimana, tinggal dimana, sudah berkeluarga apa belum, dan lain2 dan seterusnya. Sambil lalu saya perhatikan pengamen2 yang ngamen di kereta, tadinya agak heran kenapa gonta-ganti pengamen kok lagunya lagu Jawa semua tapi logatnya aneh, bukan logat orang Jawa. Setelah di pikir2 ealah... cerdik juga mereka, keretanya kan kereta tujuan Jogja, pantes nyanyinya lagu bahasa Jawa semua! Sekitar jam 23 saya tidur setelah sebelumnya SMS ke beberapa teman mengabari saya pulang kampung, SMS paling lama, soalnya balas2an plus cengengesan sendiri, dengan teman yang setiap hari chat dengan saya. You know who you are... thanks for the laugh :) Beberapa kali bangun setiap kegerahan karena kereta berhenti, setiap bangun cek HP sekedar ingin tahu sampai mana, kebetulan di HP terima broadcast dari BTS yang ngasih signal. Sampai di Jogja terlambat, sekitar jam 6, begitu keluar stasiun telpon rumah dan sementara menunggu dijemput bapak saya eh kebetulan di dekat tempat saya menunggu ada warung akringan! Tempat makan yang sudah lama sekale saya nggak merasakan, di Jakarta katanya ada tapi saya belum pernah. Pesan teh manis hangat, ngemil sate usus 3 tusuk dan sate telor puyuh 3 tusuk juga, habisnya cukup 7 ribu saja. Enak tenan... Pas belum selesai makan tau2 bapak sudah sampai, nggak seperti di Jakarta yang kesini-kesitu macet di Jogja ke mana2 relatif nggak lama, apalagi pagi2. Sampai rumah Alhamdulillah semua baik dan sehat, termasuk keponakan saya yang lucu2. Seperti biasanya kalau sedang di rumah... saya nggak ke mana2 kecuali kalau memang benar2 perlu. Maklum orang rumahan, kalau malesnya lagi kumat bisa beberapa hari nggak ke mana2. Bukan se mata2 soal males keluar juga sih... rasanya nyaman di rumah soalnya memang sudah lama nggak pulang. Tiap pagi makan nasi goreng, makan siang dibuatkan masakan yang enak tenan, malamnya juga. Ibu saya memang jago masak hehe... jadi wajar kalau habis pulang saya naik entah berapa kilo. Nggak masalah, ntar juga turun lagi. Keluar pertamakali sore setelah sampai Jogja, menemani adek saya nonton. Di Jogja ada bioskop XXI baru, lokasinya di bekas bioskop Empire 21 yang dulu gedungnya terbakar. Bangunannya dibangun ulang lho ya, bukan bangunan bekas terbakar lalu direnovasi. Mudah2an, Insya Allah, nggak kebakar lagi. Habis keluar nonton dengan adek saya nggak ke mana2 soalnya nggak ada acara, lebih enak dirumah, ada sih janji tapi gara2 hujan acaranya batal.
Kopi Jos Lik ManKejadian juga keluar rumah... hari Rabu malam, ditemani seorang nona lucu (maksudnya manis) hehe... teman saya semenjak jaman masih jadi operator warnet dulu. Alhamdulillah saya berhasil memenuhi janji ketemuan yang tertunda dari entah kapan, jadinya nggak sekedar JJTJ (Janji Janji Tinggal Janji) atau JJB (Janji Janji Basi). Jalan ke angkringan yang sudah kondang di Jogja: Kopi Jos Lik Man. Lokasinya disamping Stasiun Tugu, nggak jauh dari Malioboro, jadi suasananya wah... nggak ada duanya! Rame tapi nggak crowded seperti di Jakarta, sudah begitu makin malam makin rame. Ada yang duduk di meja (maksudnya duduk di kursi makanannya ditaruh di meja), tapi lebih banyak yang duduk di lesehan soalnya lebih asik. Sekedar duduk sambil ngobrol menikmati suasana, nongkrong, walahhh... mak-nyus tenan! Saya sendiri nggak makan nasi kucing, menu andalan angkringan, soalnya dirumah sudah makan, yang makan nasi kucing teman saya. Target utamanya: kopi jos. Sebenarnya kopi hitam biasa tapi cara penyajiannya unik, sebelum disajikan dikasih arang yang baranya masih menyala, makanya namanya "kopi jos" soalnya pas arangnya dicemplugin ke kopi keluar asapnya dan ada suaranya "josss...". Saking terlenanya sampai harus diingatkan teman saya... "kui arenge arep diombe? ora dibuang sik to?" (itu arangnya mau diminum? nggak dibuang dulu ya?). Dan pertanyaannya adalah... "Hah? Dicemplungin arang? Emang ngga kotor? Emang steril? Ngga bahaya tuh?". Kotor sih nggak soalnya ampas kopi dan sisa bara, kalau ada, mengendap di bawah gelas (kecuali kalau anda tukang makan ampas kopi lho ya). Steril? Bahaya? I have no idea... tapi toh sampai hari ini saya sehat2 saja, malah info dari teman saya arangnya bisa mengobati perut kembung. Yang penting sensasinya... josss tenan! Apalagi harganya... nasi kucing 1 bungkus, sate telur puyuh 3 tusuk, sate usus 3 tusuk, sate kikil 1 tusuk, jahe hangat dan kopi jos masing2 1 gelas cukup 19 ribu saja! Nggak tahu juga ini harga kalkulator rusak apa memang benar2 segitu hehe... tau artinya "kalkulator rusak" kan? Coba saja ke angkringan 2x di hari yang berbeda tapi makanan yang dimakan sama persis, kalau harganya beda... itu berarti harga kalkulator rusak! Tapi nggak perlu kuatir, se rusak2nya nggak bakal sampai mencekik leher kok. Oh iya... makasih buat nona lucu atas ngobrol2nya dan udah ditemenin. Kapan2 harus lagi! Hidup kopi jos!
Kamis malam saya ke kopi jos lagi, kali ini menemani adek saya. Ber tahun2 di Jogja dia belum pernah ngerasain yang namanya kopi jos. Sungguh ter.la.lu... Untuk yang ke 2 kalinya ini saya minum kopi jos dengan cara yang lebih benar, ternyata kalau mau lebih mak-nyus arangnya jangan buru2 diangkat. Biarkan agak lama dulu, sekalian menunggu biar agak dingin, aduk kopinya, angkat arangnya, tunggu sebentar, baru diminum. Walah... mak-nyus tralala-lala rasanya! Aroma arangnya lebih terasa, wis pokoke you must cekidot (baca: check it out) yourself!
Hotspot Gratisan, FKY dan Bebek Goreng Chi ChiHari Jumat sore sehabis Sholat Jumat saya keluar lagi, yak tul... dengan nona lucu lagi hehe. Teman saya yang satu ini memang baik sekali... hari Jumat dia sedang libur mau2nya direpotin menemani saya jalan. Acara pertama saya diajak hotspot-an ke Amplaz (Ambarukmo Plaza), sebetulnya sebelum hotspot-an mau nonton "Ketika Cinta Bertasbih" tapi batal soalnya tempat duduk tinggal yang di depan. Wuek nehi ya... kapok nonton di baris depan, apa2 serba gede, termasuk lubang hidung pemainnya jadi segede lubang sumur. Baru kali itu hotspot-an di Ambarukmo Plaza, ketentuannya "maksimal 2 jam, habis 2 jam nggak bisa dipakai". Info dari teman saya, kebetulan dia kerja di ISP yang menyediakan hotspot gratis di Amplaz, lebih dari 2 jam di lock. Kalaupun nggak di lock tetap saja kisaran pemakaiannya 2 jam soalnya nggak disediakan colokan listrik... cerdik juga kan hehe. Makanya saya nggak mau berusaha cari tahu di lock berdasarkan apanya, gimana caranya biar bisa bypass lock-nya, hacker2an kayak gitu lah... buat apa juga kalau nggak ada colokan listrik. Lagipula belum tentu juga saya bisa! Pas baterai notebook mau habis ada info dari adek saya soal FKY (Festival Kesenian Yogya), ya wis sekalian jalan2 toh lokasinya nggak jauh: di Benteng Vredeburg, ujungnya Malioboro, seberangnya Istana Negara. Sepanjang jalan nikmat sekali suasananya... menyusuri jalan Solo, lurus terus sampai Tugu belok kiri tembus ke jalan Malioboro. Sudah lama nggak merasakan yang seperti itu, jalan menyusuri kota Jogja paling enak memang malam hari soalnya nuansanya beda sama siang, lampu2nya banyak berperan, lagipula nggak sepanas kalau jalan siang. Kelihatannya setiap pulkam saya harus lebih banyak keluar nggak banyak2 hibernate seperti beruang kutub. Jalan bertiga dengan adek dan teman saya, dan ini dia fotonya pas di FKY:

sebelah kiri patung Indian, sebelah kanan Indian Jowo hehe... kebetulan ada stand yang memajang patung Indian dan membolehkan orang foto menggunakan hiasan kepala bulu2 yang entah saya lupa apa namanya, per foto cukup bayar 1000 rupiah. Aslinya sih kurang lebih seperti ini:

yang disebelah kiri itu meriam, makanya kalau ke Jogja jangan cuma jalan2 di Malioboro saja mampirlah ke Benteng Vredeburg. Habis itu jalan ke selatan sedikit lalu duduk2 di tempat duduk yang ada di sekitar perempatan di depan Kantor Pos, nongkrong ngobrol2 sambil menikmati suasana malam disitu pasti enak. Habis dari FKY sekalian mengantar teman saya pulang kita mampir ke tempat makan, soalnya perut sudah keroncongan. Saya diajak ke Warung Bebek Chi Chi, lokasinya nggak jauh dari Hotel Melia Purosani. Bebeknya enak, empuk, baru tahu bebek yang benar2 empuk soalnya di dekat kantor ada warung yang jual bebek goreng juga tapi walah alotnya...
Cokelat MonggoHari Sabtu sebelum jalan balik ke Jakarta saya cari oleh2 ditemani ibu saya, soalnya ada tempat yang saya belum tau: pabriknya Cokelat Monggo. Lokasinya di daerah Kota Gede, jadi selain terkenal dengan hasil kerajinan perak saat ini Kota Gede punya sesuatu yang lain yang bisa dibanggakan. Cokelat Monggo ini, seperti yang mereka tulis di pabriknya, adalah cokelat dengan rasa khas Jawa dengan kandungan coklat dan resep bercitarasa tinggi (bahasa sononya: the Finest Javanese Chocolate), bahkan jargonnya kalau nggak salah "the Chocolate of Jogja" atau "Jogja's Chocolate" ya... lupa saya! Coba waktu kesana bawa kamera ya? Tapi ahli coklatnya dari Belgia sih... kalau mau tau lebih banyak silahkan klik
disini. Saya sendiri baru tahu yang namanya Coklat Monggo soalnya ada salahsatu teman yang ribut minta dibelikan, nggak masalah sih diributin soalnya karena teman saya itu jadinya tahu yang namanya Cokelat Monggo. Jangan lupa ya kalau ke Kota Gede jangan cuma beli hasil kerajinan perak saja, mampir juga ke Cokelat Monggo. Monggo mas, mbak, pak, bu...
Balik ke JakartaJalan balik dari Jogja hari Sabtu (13/6/09), naik kereta bisnis Senja Utama lagi tapi kali ini nggak se gerah waktu berangkat. Entah gara2 saya yang memang lagi nggak enak badan, mulai Jumat malam saya pilek dan sedikit batuk2, atau memang soalnya kipas angin di gerbong yang Alhamdulillah bisa beroperasi dengan normal. Soal nggak enak badan... jangan2 gara2 homesick ya? Sebelum berangkat siang hari saya tenggak 2 butir Antangin dan sore sebelum berangkat 4 butir, nggak deh kalo sampe OD soalnya itu kan jamu. Alhamdulillah pas di kereta badan sudah berasa lumayan enak... dan seperti sama pas berangkat kali ini saya duduk dengan orang tua lagi! Oalah jan... tapi kali ini beda dengan pas berangkat, waktu itu dengan ibu2, kali ini disamping saya seorang bapak2. Nggak ada ngobrol2, nggak lama setelah berangkat si bapak tidur. Saya jadi ketularan, emang dasarnya tukang tidur juga sih... Oh iya sebelum tidur sama seperti pas berangkat, ada pengamennya juga, tapi nggak seperti pas dari Jakarta ke Jogja yang nyanyi lagu bahasa Jawa ini malah kebalikannya, yang dinyanyikan lagu bahasa Indonesia. Nyanyinya sambil bawa alat yang saya lupa namanya, pokoknya suaranya icik2, lagunya top 10, yang paling saya ingat lagunya Ungu yang "pernahkah kau merasa... hatimu hampa..." Paling hot di bagian yang syairnya dinyanyikan Iis Dahlia, yang itu lho... "ampuni aku sayangku..." soalnya yang nyanyi bencong! haha... Makanya lagu lain saya nggak ingat soalnya yang paling hot di bagian itu saja. Belum lagi backsound-nya, bencong juga sambil membawa kotak yang fungsinya bas dan kendang dia nyanyi "serrr... ewer ewer... serrr... ewer ewer... kluerrr...". Satu gerbong jadi semarak! Makanya sekali2 naik kereta non eksekutif ya, suasananya lumayan variatif! Sampai Stasiun Senen jam 5 lebih, terlambat seperti biasanya, tapi nggak masalah yang penting selamat. Sampai kontrakan eh kok ada yang berubah... ternyata barang2 yang ada di bawah yang dekat2 lantai oleh ibu yang punya kontrakan dinaikkan. Kesimpulannya: air masuk pas hujan beberapa hari di Jakarta... pas pulang kampung kebetulan saya lihat di berita Jakarta hujan. Beberapa kali kejadian di kontrakan saluran air mampet lalu air masuk, jadi sampai kontrakan bukannya istirahat saya harus cuci2 dan bersih2 kontrakan. Yah beginilah bujangan hehe... lagipula sudah nggak terlalu ngantuk soalnya di kereta sudah cukup tidur. Cuma agak pegel saja, kursi di kereta agak keras dan posisi tidur kurang nyaman. Namanya juga kereta non-eksekutif, come on... what did you expect?
Jogja saat ini sudah lebih tertata, beda dengan dulu ketika saya masih tinggal disana. Sudah rapi, hampir di semua jalan yang saya lewati pinggirnya sudah di trotoar. Hampir di semua traffic light ada counternya... intinya: lebih rapi dan tertata. Ke mana2 dekat, nggak macet, lovely city pokoknya... Sebenarnya ada 1 tempat lagi yang ingin saya kunjungi, lokasinya di kota Solo, sekaligus ketemuan dengan seorang teman dan kalau sempat ketemuan juga dengan teman2 di kantor lama. Tapi gagal soalnya jadwalnya nggak match, jadi mohon maaf ya teman2... Insya Allah lain waktu saya main. Dan sekarang saya sudah balik lagi di Jakarta. Macet lagi, macet lagi. Oalah... Eh bukannya mengeluh ya, gimanapun juga saya cari makannya kan di Jakarta. Yah pokoknya love Jogja deh :)