Tuesday, August 18, 2009

Merdeka

Sudah lama nggak update blog, nggak ada ide, eh di status Facebook salahsatu teman saya ada kata2 yang menggelitik...

hari ini banyak yg bertanya, apakah Indonesia bener2 merdeka??? tanyakan diri sendiri napa? kalo belum? apa yg bisa kita lakukan untuk itu...?

Respon saya:

mulailah dari hal yang sederhana
mulailah dari diri sendiri
mulailah sekarang

Yes I know, nyontek kata2 AA Gym, tapi dalam banyak hal kata2 beliau itu kan bisa diaplikasikan? Respon lanjutan saya:

kan formulanya simple aja bro: kalo masing2 orang dah bisa mulai dari diri sendiri tinggal digabung aja dan voila... next thing you know Indonesia is a GREAT nation. selama ini problemnya orang kalo nggak ngajak yah dia nunggu... jadinya adanya kalo nggak ajak2an ya tunggu2an.
berkaryalah & dan berikan yang terbaik di masing2 bidang kita and next thing you know... yah bisa ditebak sendiri lah :)

Maksudnya: tukang IT, seperti saya, ya jadilah tukang IT yang se baik2nya. Tukang bangunan jadilah tukang bangunan yang se baik2nya. Tukang sapu jalanan bersihkan jalan se bersih2nya. Tukang sampah bersihin lah sampah se bersih2nya. Politikus, yang sering dibilang terhormat, jadilah politikus yang bisa mengemban tugas. Yang ada sekarang kan nggak seperti itu kejadiannya. Tukang bangunan sering dianggap profesi rendahan padahal kalau nggak ada mereka gedung2 tinggi ber puluh2 lantai, yang salahsatunya sedang saya tempatin untuk ngetik blog ini, mana bisa jadi? Tukang sapu jalanan sering diremehkan padahal kalo jalanan kotor kita ngedumel. Politikus dihormati, petentang-petenteng, padahal banyak yang kalau dibandingkan dengan tukang sampah kalau "dicium" baunya mereka lebih busuk (tapi seringnya baunya tersamar soalnya wanti, pakai jas, ke mana2 diantar mobil mewah). So... whatever you do, whoever you are, do your best, do it honestly. Kalau semua orang memberikan yang terbaik dan jujur... nggak usah dibilang kan Indonesia bakal jadi seperti apa?

Monday, June 22, 2009

Karena Setiap Orang Ada Tapinya...

"Baik sih, tapi..."
"Baik sih, ganteng lagi, tapi..."
"Cantik sih, tapi..."
"Cantik sih, tapi matre, udah gitu blablabla..."

Tiap orang pasti ada "tapi" nya, dari sononya dibikin begitu, oleh Tuhan setiap orang memang dikasih "bonus" yang namanya "kekurangan". Sebaliknya... ada bonus satu lagi yang namanya "kelebihan". Dari "kekurangan" dan "kelebihan" inilah nongol yang namanya "perbedaan", ini dia yang sering jadi penyebab friksi, konflik, padahal kalau bisa diterapkan dengan baik dan pas justru karena "tapi" nya seseorang inilah hidup bisa harmonis soalnya kekurangan dari seseorang bisa jadi kelebihan, atau keunggulan, dari orang lain. Justru bisa kompak saling mengisi, maksudnya kekurangan si A dicover dan diimbangi sama kelebihannya si B. Jangan pernah lupa prinsip dasar kehidupan adalah karena adanya perbedaan: ada pagi, ada malam. Kalau pagi terus kita istirahatnya kapan? Ada panas, ada hujan. Kalau panas terus bisa berabe, repot kalau krisis air, sementara kalau hujan terus bisa bikin banjir, udah gitu harus sering2 nyuci motor hehe... Yang penting bisa saling menerima, bisa saling mengisi. Ada teman saya yang jagoan soal finance tapi nggak ngerti soal IT, disinilah saya bisa mengisi kekurangan dia dan dia bisa mengisi kekurangan saya soalnya saya bloon banget soal hal2 yang berhubungan dengan hitung2an. Dan yang nggak kalah penting adalah menerima dalam batasan2 yang sewajarnya, berkompromi sebijak mungkin, jangan salah penempatan, jangan sampai "Baik sih nggak tau ya... nggak ganteng juga, biasa2 aja. Tukang nyiksa lagi! Tapi anak sultan ciennn... royal family gitu lho. Terima aja deh..." Ealah... kok jadi ngelantur sampe situ :D

Peer Groups

Nah... dari orang-orang yang bisa saling menerima inilah terbentuk yang namanya "peer groups" atau bahasa kerennya "geng". Kalau di perkantoran nggak susah dilihatnya... paling gampang dilihat kalau pas makan siang, biasanya antara satu geng dengan geng lainnya makan siangnya berkelompok. Ini contoh yang paling gampang dilihat, maksud saya di lingkungan kerja, contoh lain masih banyak... misalnya geng ibu-ibu antar rt, geng yang terbentuk karena kesamaan hobi (misalnya geng motor), geng yang anggotanya punya kesamaan politik (maksudnya partai politik), dan geng-geng lainnya. Dan, karena setiap peer groups ini ada tapinya juga, adalah hal yang wajar kalau kadang2 ada friksi, konflik, yah hal2 yang seperti begitulah. Wajar, antara 2 orang saja sering ada friksi apalagi kalau antara beberapa grup yang per grupnya saja isinya banyak orang, belum lagi kalau disebut friksi di internalnya grup2 ini. Yang biasanya bikin grup2 ini bisa rukun adalah kalau ada kesamaan kepentingan dan atau tujuan, istilah sononya "serving the greater good". Yang penting se friksi apapun, se bersaing apapun, kalau bersaingnya dengan cara sehat, friksinya bukan karena masalah pribadi, atau karena demi mengutamakan kepentingan kelompok, ya sah2 saja...

Sunday, June 14, 2009

Pulang Kampung

Seminggu kemarin saya pulkam, ini adalah hari pertama saya masuk kerja kembali. Nggak ada acara khusus, mending pulkam sebelum ganti nama jadi "Bang Toyib" soalnya nggak pulang2. Alasan lainnya adalah: mumpung bisa (atau boleh) cuti, bukannya sok jadi orang penting sama kantor nggak boleh cuti, justru setahu saya makin penting orang makin gampang dia ngajuin cuti. Cuti ya cuti saja, kalau perlu apa2 tinggal dikontak, toh ada BlackBerry (atau perangkat yang semacam itu), sementara saya beberapa kali mengajukan cuti ada saja ini-itunya. Ya dari kantor, ya dari saya sendiri, biasanya kalau ada teman yang sudah beberapa kali cuti bertanya "ngga cuti lo Ri?" saya jawab "ngga... ngga boleh nih" masih bertanya lagi "ngga boleh sama sapa, kan cuti hak lo?" jawaban paling jitu adalah "ngga boleh sama keadaan".

Pulang ke Jogja

Berangkat hari Sabtu (6/6/09) naik kereta bisnis Senja Utama dari Stasiun Pasar Senen jam 19:20, jadwal sampai Stasiun Tugu Jogja jam 04:27 tapi sampainya molor ke sekitar jam 6. Nggak masalah, yang penting selamat. Begitu masuk kereta mulai keringatan, maklum kereta kelas non-eksekutif, nggak ada ACnya. Mau beli tiket kereta eksekutif kok mahal, sudah ambil kereta malam maksudnya biar nggak sepanas kalau jalan siang, kok tetap saja setiap kereta behenti rasanya gerah. Begitu duduk eh tempat duduk sebelah saya masih kosong, saya berharapnya yang duduk di sebelah cewek cantik masih single dan tau sendiri lah kelanjutan ceritanya gimana... standar sinetron banget nggak sih? Begitu kereta jalan saya berpikir "walah... sendirian nih. ya wis tidur aja" eh ternyata setelah Stasiun Jatinegara ada temannya juga. Sayangnya bukan cewek cantik single seperti yang saya harapkan tapi ibu2... yang setelah ngobrol beberapa saat ternyata beliau ini ke Jakarta nengok anaknya dan malam itu akan pulang kembali ke Jogja. Dan ternyata bahasa Jawa kromo hinggil saya, bahasa Jawa high-level yang seharusnya digunakan untuk berbicara ke orang yang lebih tua atau dihormati, masih lumayan, bukan sok gara2 sudah lama di Jakarta terus lupa bahasa Jawa lho ya, tapi dari kecil kromo hinggil jarang saya gunakan soalnya susah!

Ibu2: Permisi mas...
Saya: Silahkan bu... *sambil senyum dan mengangguk lalu berpikir "yah... kok ibu2 sih"*
Ibu2: Mau ke Jogja ya mas?
Saya: Iya bu... ibu juga? *pikir saya: ya eyaaa lah... namanya juga Senja Utama Jogja!*
Ibu2: Iya mas... mas asli Jogja ya?
Saya: Nggih bu... Ibu Jogjane pundhi? (Iya bu... Ibu Jogjanya mana?)
Ibu2: Bantul mas, daerah pesisir. Mas Jogjane ting pundhi nggih? (Bantul mas, di daerah pesisir. Mas Jogjanya dimana ya?) *sambil agak heran... kelihatannya heran soalnya hari gini ada anak muda bisa kromo hinggil*
Saya: Sami bu, Bantul, tapi mboten tebih saking Jogja. Kidulipun Ring Road. Pas gempa ndaleme pripun bu? (Sama bu, Bantul, tapi nggak jauh dari Jogja. Selatannya Ring Road. Pas gempa rumahnya gimana bu?)
Ibu2: Mboten nopo2 mas (Nggak kenapa2 mas)

Ealah ternyata sama2 wong ndeso... Ngobrol ini-itu, berapa tahun di Jakarta, kerja dimana, tinggal dimana, sudah berkeluarga apa belum, dan lain2 dan seterusnya. Sambil lalu saya perhatikan pengamen2 yang ngamen di kereta, tadinya agak heran kenapa gonta-ganti pengamen kok lagunya lagu Jawa semua tapi logatnya aneh, bukan logat orang Jawa. Setelah di pikir2 ealah... cerdik juga mereka, keretanya kan kereta tujuan Jogja, pantes nyanyinya lagu bahasa Jawa semua! Sekitar jam 23 saya tidur setelah sebelumnya SMS ke beberapa teman mengabari saya pulang kampung, SMS paling lama, soalnya balas2an plus cengengesan sendiri, dengan teman yang setiap hari chat dengan saya. You know who you are... thanks for the laugh :) Beberapa kali bangun setiap kegerahan karena kereta berhenti, setiap bangun cek HP sekedar ingin tahu sampai mana, kebetulan di HP terima broadcast dari BTS yang ngasih signal. Sampai di Jogja terlambat, sekitar jam 6, begitu keluar stasiun telpon rumah dan sementara menunggu dijemput bapak saya eh kebetulan di dekat tempat saya menunggu ada warung akringan! Tempat makan yang sudah lama sekale saya nggak merasakan, di Jakarta katanya ada tapi saya belum pernah. Pesan teh manis hangat, ngemil sate usus 3 tusuk dan sate telor puyuh 3 tusuk juga, habisnya cukup 7 ribu saja. Enak tenan... Pas belum selesai makan tau2 bapak sudah sampai, nggak seperti di Jakarta yang kesini-kesitu macet di Jogja ke mana2 relatif nggak lama, apalagi pagi2. Sampai rumah Alhamdulillah semua baik dan sehat, termasuk keponakan saya yang lucu2. Seperti biasanya kalau sedang di rumah... saya nggak ke mana2 kecuali kalau memang benar2 perlu. Maklum orang rumahan, kalau malesnya lagi kumat bisa beberapa hari nggak ke mana2. Bukan se mata2 soal males keluar juga sih... rasanya nyaman di rumah soalnya memang sudah lama nggak pulang. Tiap pagi makan nasi goreng, makan siang dibuatkan masakan yang enak tenan, malamnya juga. Ibu saya memang jago masak hehe... jadi wajar kalau habis pulang saya naik entah berapa kilo. Nggak masalah, ntar juga turun lagi. Keluar pertamakali sore setelah sampai Jogja, menemani adek saya nonton. Di Jogja ada bioskop XXI baru, lokasinya di bekas bioskop Empire 21 yang dulu gedungnya terbakar. Bangunannya dibangun ulang lho ya, bukan bangunan bekas terbakar lalu direnovasi. Mudah2an, Insya Allah, nggak kebakar lagi. Habis keluar nonton dengan adek saya nggak ke mana2 soalnya nggak ada acara, lebih enak dirumah, ada sih janji tapi gara2 hujan acaranya batal.

Kopi Jos Lik Man

Kejadian juga keluar rumah... hari Rabu malam, ditemani seorang nona lucu (maksudnya manis) hehe... teman saya semenjak jaman masih jadi operator warnet dulu. Alhamdulillah saya berhasil memenuhi janji ketemuan yang tertunda dari entah kapan, jadinya nggak sekedar JJTJ (Janji Janji Tinggal Janji) atau JJB (Janji Janji Basi). Jalan ke angkringan yang sudah kondang di Jogja: Kopi Jos Lik Man. Lokasinya disamping Stasiun Tugu, nggak jauh dari Malioboro, jadi suasananya wah... nggak ada duanya! Rame tapi nggak crowded seperti di Jakarta, sudah begitu makin malam makin rame. Ada yang duduk di meja (maksudnya duduk di kursi makanannya ditaruh di meja), tapi lebih banyak yang duduk di lesehan soalnya lebih asik. Sekedar duduk sambil ngobrol menikmati suasana, nongkrong, walahhh... mak-nyus tenan! Saya sendiri nggak makan nasi kucing, menu andalan angkringan, soalnya dirumah sudah makan, yang makan nasi kucing teman saya. Target utamanya: kopi jos. Sebenarnya kopi hitam biasa tapi cara penyajiannya unik, sebelum disajikan dikasih arang yang baranya masih menyala, makanya namanya "kopi jos" soalnya pas arangnya dicemplugin ke kopi keluar asapnya dan ada suaranya "josss...". Saking terlenanya sampai harus diingatkan teman saya... "kui arenge arep diombe? ora dibuang sik to?" (itu arangnya mau diminum? nggak dibuang dulu ya?). Dan pertanyaannya adalah... "Hah? Dicemplungin arang? Emang ngga kotor? Emang steril? Ngga bahaya tuh?". Kotor sih nggak soalnya ampas kopi dan sisa bara, kalau ada, mengendap di bawah gelas (kecuali kalau anda tukang makan ampas kopi lho ya). Steril? Bahaya? I have no idea... tapi toh sampai hari ini saya sehat2 saja, malah info dari teman saya arangnya bisa mengobati perut kembung. Yang penting sensasinya... josss tenan! Apalagi harganya... nasi kucing 1 bungkus, sate telur puyuh 3 tusuk, sate usus 3 tusuk, sate kikil 1 tusuk, jahe hangat dan kopi jos masing2 1 gelas cukup 19 ribu saja! Nggak tahu juga ini harga kalkulator rusak apa memang benar2 segitu hehe... tau artinya "kalkulator rusak" kan? Coba saja ke angkringan 2x di hari yang berbeda tapi makanan yang dimakan sama persis, kalau harganya beda... itu berarti harga kalkulator rusak! Tapi nggak perlu kuatir, se rusak2nya nggak bakal sampai mencekik leher kok. Oh iya... makasih buat nona lucu atas ngobrol2nya dan udah ditemenin. Kapan2 harus lagi! Hidup kopi jos!

Kamis malam saya ke kopi jos lagi, kali ini menemani adek saya. Ber tahun2 di Jogja dia belum pernah ngerasain yang namanya kopi jos. Sungguh ter.la.lu... Untuk yang ke 2 kalinya ini saya minum kopi jos dengan cara yang lebih benar, ternyata kalau mau lebih mak-nyus arangnya jangan buru2 diangkat. Biarkan agak lama dulu, sekalian menunggu biar agak dingin, aduk kopinya, angkat arangnya, tunggu sebentar, baru diminum. Walah... mak-nyus tralala-lala rasanya! Aroma arangnya lebih terasa, wis pokoke you must cekidot (baca: check it out) yourself!

Hotspot Gratisan, FKY dan Bebek Goreng Chi Chi

Hari Jumat sore sehabis Sholat Jumat saya keluar lagi, yak tul... dengan nona lucu lagi hehe. Teman saya yang satu ini memang baik sekali... hari Jumat dia sedang libur mau2nya direpotin menemani saya jalan. Acara pertama saya diajak hotspot-an ke Amplaz (Ambarukmo Plaza), sebetulnya sebelum hotspot-an mau nonton "Ketika Cinta Bertasbih" tapi batal soalnya tempat duduk tinggal yang di depan. Wuek nehi ya... kapok nonton di baris depan, apa2 serba gede, termasuk lubang hidung pemainnya jadi segede lubang sumur. Baru kali itu hotspot-an di Ambarukmo Plaza, ketentuannya "maksimal 2 jam, habis 2 jam nggak bisa dipakai". Info dari teman saya, kebetulan dia kerja di ISP yang menyediakan hotspot gratis di Amplaz, lebih dari 2 jam di lock. Kalaupun nggak di lock tetap saja kisaran pemakaiannya 2 jam soalnya nggak disediakan colokan listrik... cerdik juga kan hehe. Makanya saya nggak mau berusaha cari tahu di lock berdasarkan apanya, gimana caranya biar bisa bypass lock-nya, hacker2an kayak gitu lah... buat apa juga kalau nggak ada colokan listrik. Lagipula belum tentu juga saya bisa! Pas baterai notebook mau habis ada info dari adek saya soal FKY (Festival Kesenian Yogya), ya wis sekalian jalan2 toh lokasinya nggak jauh: di Benteng Vredeburg, ujungnya Malioboro, seberangnya Istana Negara. Sepanjang jalan nikmat sekali suasananya... menyusuri jalan Solo, lurus terus sampai Tugu belok kiri tembus ke jalan Malioboro. Sudah lama nggak merasakan yang seperti itu, jalan menyusuri kota Jogja paling enak memang malam hari soalnya nuansanya beda sama siang, lampu2nya banyak berperan, lagipula nggak sepanas kalau jalan siang. Kelihatannya setiap pulkam saya harus lebih banyak keluar nggak banyak2 hibernate seperti beruang kutub. Jalan bertiga dengan adek dan teman saya, dan ini dia fotonya pas di FKY:

sebelah kiri patung Indian, sebelah kanan Indian Jowo hehe... kebetulan ada stand yang memajang patung Indian dan membolehkan orang foto menggunakan hiasan kepala bulu2 yang entah saya lupa apa namanya, per foto cukup bayar 1000 rupiah. Aslinya sih kurang lebih seperti ini:

yang disebelah kiri itu meriam, makanya kalau ke Jogja jangan cuma jalan2 di Malioboro saja mampirlah ke Benteng Vredeburg. Habis itu jalan ke selatan sedikit lalu duduk2 di tempat duduk yang ada di sekitar perempatan di depan Kantor Pos, nongkrong ngobrol2 sambil menikmati suasana malam disitu pasti enak. Habis dari FKY sekalian mengantar teman saya pulang kita mampir ke tempat makan, soalnya perut sudah keroncongan. Saya diajak ke Warung Bebek Chi Chi, lokasinya nggak jauh dari Hotel Melia Purosani. Bebeknya enak, empuk, baru tahu bebek yang benar2 empuk soalnya di dekat kantor ada warung yang jual bebek goreng juga tapi walah alotnya...

Cokelat Monggo

Hari Sabtu sebelum jalan balik ke Jakarta saya cari oleh2 ditemani ibu saya, soalnya ada tempat yang saya belum tau: pabriknya Cokelat Monggo. Lokasinya di daerah Kota Gede, jadi selain terkenal dengan hasil kerajinan perak saat ini Kota Gede punya sesuatu yang lain yang bisa dibanggakan. Cokelat Monggo ini, seperti yang mereka tulis di pabriknya, adalah cokelat dengan rasa khas Jawa dengan kandungan coklat dan resep bercitarasa tinggi (bahasa sononya: the Finest Javanese Chocolate), bahkan jargonnya kalau nggak salah "the Chocolate of Jogja" atau "Jogja's Chocolate" ya... lupa saya! Coba waktu kesana bawa kamera ya? Tapi ahli coklatnya dari Belgia sih... kalau mau tau lebih banyak silahkan klik disini. Saya sendiri baru tahu yang namanya Coklat Monggo soalnya ada salahsatu teman yang ribut minta dibelikan, nggak masalah sih diributin soalnya karena teman saya itu jadinya tahu yang namanya Cokelat Monggo. Jangan lupa ya kalau ke Kota Gede jangan cuma beli hasil kerajinan perak saja, mampir juga ke Cokelat Monggo. Monggo mas, mbak, pak, bu...

Balik ke Jakarta

Jalan balik dari Jogja hari Sabtu (13/6/09), naik kereta bisnis Senja Utama lagi tapi kali ini nggak se gerah waktu berangkat. Entah gara2 saya yang memang lagi nggak enak badan, mulai Jumat malam saya pilek dan sedikit batuk2, atau memang soalnya kipas angin di gerbong yang Alhamdulillah bisa beroperasi dengan normal. Soal nggak enak badan... jangan2 gara2 homesick ya? Sebelum berangkat siang hari saya tenggak 2 butir Antangin dan sore sebelum berangkat 4 butir, nggak deh kalo sampe OD soalnya itu kan jamu. Alhamdulillah pas di kereta badan sudah berasa lumayan enak... dan seperti sama pas berangkat kali ini saya duduk dengan orang tua lagi! Oalah jan... tapi kali ini beda dengan pas berangkat, waktu itu dengan ibu2, kali ini disamping saya seorang bapak2. Nggak ada ngobrol2, nggak lama setelah berangkat si bapak tidur. Saya jadi ketularan, emang dasarnya tukang tidur juga sih... Oh iya sebelum tidur sama seperti pas berangkat, ada pengamennya juga, tapi nggak seperti pas dari Jakarta ke Jogja yang nyanyi lagu bahasa Jawa ini malah kebalikannya, yang dinyanyikan lagu bahasa Indonesia. Nyanyinya sambil bawa alat yang saya lupa namanya, pokoknya suaranya icik2, lagunya top 10, yang paling saya ingat lagunya Ungu yang "pernahkah kau merasa... hatimu hampa..." Paling hot di bagian yang syairnya dinyanyikan Iis Dahlia, yang itu lho... "ampuni aku sayangku..." soalnya yang nyanyi bencong! haha... Makanya lagu lain saya nggak ingat soalnya yang paling hot di bagian itu saja. Belum lagi backsound-nya, bencong juga sambil membawa kotak yang fungsinya bas dan kendang dia nyanyi "serrr... ewer ewer... serrr... ewer ewer... kluerrr...". Satu gerbong jadi semarak! Makanya sekali2 naik kereta non eksekutif ya, suasananya lumayan variatif! Sampai Stasiun Senen jam 5 lebih, terlambat seperti biasanya, tapi nggak masalah yang penting selamat. Sampai kontrakan eh kok ada yang berubah... ternyata barang2 yang ada di bawah yang dekat2 lantai oleh ibu yang punya kontrakan dinaikkan. Kesimpulannya: air masuk pas hujan beberapa hari di Jakarta... pas pulang kampung kebetulan saya lihat di berita Jakarta hujan. Beberapa kali kejadian di kontrakan saluran air mampet lalu air masuk, jadi sampai kontrakan bukannya istirahat saya harus cuci2 dan bersih2 kontrakan. Yah beginilah bujangan hehe... lagipula sudah nggak terlalu ngantuk soalnya di kereta sudah cukup tidur. Cuma agak pegel saja, kursi di kereta agak keras dan posisi tidur kurang nyaman. Namanya juga kereta non-eksekutif, come on... what did you expect?



Jogja saat ini sudah lebih tertata, beda dengan dulu ketika saya masih tinggal disana. Sudah rapi, hampir di semua jalan yang saya lewati pinggirnya sudah di trotoar. Hampir di semua traffic light ada counternya... intinya: lebih rapi dan tertata. Ke mana2 dekat, nggak macet, lovely city pokoknya... Sebenarnya ada 1 tempat lagi yang ingin saya kunjungi, lokasinya di kota Solo, sekaligus ketemuan dengan seorang teman dan kalau sempat ketemuan juga dengan teman2 di kantor lama. Tapi gagal soalnya jadwalnya nggak match, jadi mohon maaf ya teman2... Insya Allah lain waktu saya main. Dan sekarang saya sudah balik lagi di Jakarta. Macet lagi, macet lagi. Oalah... Eh bukannya mengeluh ya, gimanapun juga saya cari makannya kan di Jakarta. Yah pokoknya love Jogja deh :)

Thursday, June 04, 2009

Supir Angkot Edan!

Kemarin saya menemani teman saya jajan bakso dipinggir jalan. Yang menarik justru bukan jajannya tapi pas saya amati tingkah kendaraan umum yang ngetem nggak jauh dari tempat saya dan teman saya jajan. Menarik soalnya baru kali itu saya bisa mengamati dari pinggir jalan, biasanya sudut pandang saya adalah sama2 sebagai pengguna jalan. Sudah jadi rahasia umum tingkah supir kendaraan umum (biar gampang saya sebut saja angkot) yang acak-adut alias asal2an, setiap pengemudi di Jakarta entah itu biker atau kendaraan yang beroda lebih dari 2 pasti sering emosi melihat ulah supir angkot. Berhenti sembarangan (ngetem dan atau naik-turunin penumpang), balapan (dikiranya mereka lagi di sirkuit Sentul kali ya... ), salip kanan salip kiri (mobil tipe City Car yang kecil2 saja kalah lincah sama yang segede Metro Mini), dan banyak tingkah lain yang ujung2nya bikin macet. Banyak yang bilang "biang macet tuh biker", "daripada bikin jalur busway mending bikin jalur biker", tapi kalau benar2 diteliti dan dibuat ranking sebetulnya bukan biker yang ada di urutan teratas. Yang ada di urutan teratas: kendaraan umum. Saya bukannya membela biker, mentang2 biker juga. Kalau nggak percaya coba saja test sehari tanpa kendaraan umum... crazy idea i know, bakal banyak yang teriak, tapi traffic pasti lebih lancar dan tertib kalau tidak ada kendaraan umum. Masih nggak percaya juga? Coba tiap antrian macet, selain di lampu merah, anda perhatikan. Biasanya yang paling depan angkot!

Solusinya gimana? Solusinya nggak segampang yang dibayangkan karena nggak bisa melibatkan pemerintah saja... semua harus mendukung. Sebenarnya kunci tertib tuh nggak rumit kok, yang paling utama: kalau mau tertib harus kompak. Pemerintah bikin halte biar ada tempat ngetem tanpa bikin macet, supir angkot berhenti HANYA di halte yang disediakan, dan last but not least: penumpang menunggu HANYA di halte. Kalau salahsatu dari yang sudah saya sebutkan diatas ada yang nggak kompak, misalnya penumpang nggak mau nunggu di halte, ya sudah bubar semua soalnya supir kan kejar setoran. Dan yang sekarang terjadi adalah halte sering tidak ada, di tempat2 yang seharusnya dibangun halte (misalnya di persimpangan jalan atau di dekat halte busway) banyak yang tidak ada halte untuk angkot. Padahal dulu awal2 ada busway katanya angkot akan dijadikan feeder untuk busway, kenyataannya jarang di halte busway ada halte angkot. Kalaupun ada sekedar garis di jalan ditulisi "bus stop". Itu namanya halte boongan, mana ada halte mengambil space yang seharusnya dipakai untuk jalan. Oalah Jakarta, Jakarta... entah sampai kapan ada solusi manajemen transportasi yang memang benar2 solusi

Wednesday, June 03, 2009

Bisa Linux Berarti Pinter?

Beberapa waktu yang lalu di Facebook ada komentar yang lucu... ceritanya waktu itu kebetulan saya sedang browsing ke group yang pada dasarnya "Say No to Roy Suryo". Saya nggak mau membahas soal Roy Suryo, daripada dibilang "oknum blogger" hehe... komentar yang saya bilang lucu tadi adalah "pakar IT kok bisanya Windows, pake Linux dong!".

First of all... kemungkinan besar orang yang komentar begini baru kenal Linux. Orang yang sudah expert soal Linux nggak bakal kasih komentar model beginian, anda boleh tanya ke Pak Onno W Purbo dan pakar2 Linux lainnya, rata2 komentarnya kurang lebih sama: masing2 OS ada kelebihan dan kekurangannya. Dulu saya juga begitu, many thanks to salahsatu teman saya yang mengembalikan saya ke jalan yang benar hehe... Waktu itu awal2 saya menggunakan Linux, baru tahu asik2nya, baru getol2nya ngoprek. Suatu hari ngobrol sama teman saya, saya bilang "Windows busuk, gampang kena virus, sering blue screen, dll dst dlsb blablabla" tapi pas ditanya "busuk ya... busuknya dimana? emang kamu bisa bikin? emang pasti kena virus? pasti blue screen?" saya nggak bisa jawab. Yang namanya perangkat bikinan manusia mas, mbak... nggak ada yang sempurna!

Second thing... Linux sekarang sudah beda sama awal2 Linux masuk ke Indonesia. Sudah gampang dipakainya, banyak program yang jalan di OS lain jalan juga di Linux. Sama2 pakai keyboard dan mouse lagi... based-nya GUI jadi nggak perlu hafal command terus inputnya menggunakan text seperti jaman DOS dulu. Buat mereka2 yang pernah mengalami jaman kegelapan, jaman DOS maksudnya hehe, pasti tahu rasanya lebih nikmat yang mana antara harus ber susah2 hafal command (TUI, Text User Interface) dengan tinggal klik mouse (GUI, Graphical User Interface). Colok ini-itu sudah autodetect, masukin optical disc sudah ada automount, pokoknya sudah maknyus lah... Sudah begitu bagian paling susah dari install Linux, setting partisi, beberapa waktu lalu juga sudah teratasi. Coba saja Ubuntu... di step partitioning ada guide-nya jadi nggak terlalu njlimet. Bahkan bisa diinstal di partisi Windows! Kurang apa coba... *promosi mode on*

Last but not least... please bedain antara "pakar" dengan "bisa" atau "familiar". Pakar tuh tingkatnya tinggi, jangan sampai salah kasih gelar "pakar" lagi ya, bukan bermaksud nyindir hehe... sementara "bisa" dan "familiar" tingkatnya dibawah "pakar". Jadi... bisa linux berarti pinter? Jawabannya: nggak juga kaleee...

Tuesday, June 02, 2009

ntop

Beberapa waktu kemarin saya baru tahu ntop bisa begini:

dan begini:

Feature yang pertama yang ngasih tahu teman saya... waktu itu dia bilang "eh ada ininya ngga... kok ngga ada sih?" trus saya oprek2 eh kok ternyata jalan... lumayan membantu untuk visualisasi melihat koneksi darimana ke host mana, kalau yang kedua sih nggak terlalu vital kecuali buat mereka yang suka main2 Google Earth.

Hah?! Apaan tuh ntop? Silahkan kunjungi http://www.ntop.org kalau ingin tahu lebih banyak, penjelasan singkatnya ada di http://www.ntop.org/overview Kok bisa sih baru tahu? Yah soalnya setelah entah berapa lama saya pakai ntop yang versi untuk Windows, versi lama dan development nya sudah berhenti, baru beberapa minggu kemarin saya pakai versi yang terbaru yang berjalan diatas platform Linux. ntop sering saya pakai untuk keperluan kerja, biasanya untuk investigate kondisi network milik customer. Situasi tipikalnya: customer merasa lambat, setelah dicek bandwidthnya penuh, tetapi customernya merasa nggak ada yang pakai. Itu tipikalnya... baberapa waktu kemarin ada customer yang sengaja minta dipasangi untuk keperluan monitoring karena ntop ini bisa memberikan report detail mengenai host, istilah gampangnya "siapa connect kemana pakai bandwidth berapa" dan dari hasil report tadi bisa tinggal tunjuk saja... "pak, bu, ini lho yang pakai bandwidth paling banyak host ini dipakainya buat anu blablabla..." Biasanya dari hasil yang kurang lebih seperti ini:

sudah cukup jitu untuk keperluan report. Atau kalau perlu detail bisa juga di klik host-nya... asal hati2 saja soalnya kalau ternyata host-nya yang punya bos yah cukup sampai ke orang IT-nya saja daripada si bos marah2 gara2 merasa ditelanjangi hehe. Untuk bisa melihat detail sebuah network harus pakai cara "Tap" atau populernya disebut "Sniff". Tipikal network seperti begini:

jadi begini kalau sudah di tap:

Ini kalau ada Hub yang hari gini sudah susah dicari. Detailnya kalau menggunakan Hub:

Hub ya, bukan Switch, kalau Switch di hampir setiap toko komputer pasti jual. Kenapa harus Hub? Ada beda cara kerja antara Hub dan Switch... Hub bekerja dengan cara meng-copy paket yang tiba ke 1 port ke port lainnya sementara Switch cara kerjanya paket yang tiba di salahsatu port akan diantarkan ke port tujuannya. Bisa pakai Switch asal disetting port mirroring, feature ini ada di Switch Manageable yang harganya yah... begitulah hehe. Kalau nggak ada Hub beli saja ethernet card 1 lagi, atau kalau anda pakai notebook ya beli USB Ethernet lalu setting bridge. Nggak susah koh bikin bridge, silahkan Googling. Detailnya kalau menggunakan bridging:

Just make sure PC atau Notebook yang dipakai cukup kuat untuk dilewati paket dari LAN, Prosesor nggak perlu yang ber core-core (dual core, quad core, dan core2 lainnya) yang penting memory jangan terlalu kecil soalnya ntop lumayan rakus memory. Nah... sebelum ngubek-ubek LAN anda untuk cari tahu apa sih yang bikin LAN saya begini, begitu, anu, blablabla... coba di ntop dulu. Terahir kali sih ntop membantu teman saya nggak harus mengurutkan kabel satu2 buat nyari cable-loop, kebetulan switch teman saya ini sebentar2 ngedrop, saran saya sebelum ngurut kabel coba di ntop dulu. Daripada pegel nyari kabel satu2... dan ternyata saran saya kok ya tumben manjur hehe, penyebabnya memang bukan gara2 cable loop tapi ada salahsatu host yang broadcastnya gila2an. Broadcast apa saya juga nggak dikasih tahu detail, yang penting problem dia solve lah...
Adudududududuh...

Kau tak percaya, adududu... dududuh
Mengapa ku cinta, untuk kamu
Belahlah dadaku ini saja...

Masih ingat sama lagu itu? Yang nyanyi Harry Mukti, saya ingat gara2 kemarin pas cukur rambut tukang cukurnya setel lagu yang 80an semua, salahsatunya ya lagu yang itu yang saya lupa judulnya hehe. Selain itu ada lagunya Ita Purnamasari yang "Cintaku padamu tak kan berubah..." yang saya juga lupa judulnya! Kalau ingat masa2 itu... hehe, waktu itu saya masih SMA. Ini baru dengerin lagunya, belum lihat video klipnya! Video klip masa itu... ampun deh, mendingan cukup dengerin lagunya. Kenapa? Soalnya tambah berasa jadulnya, kesannya seadanya. Ada yang saking "seadanya" sampai yang nyanyi kayak salah tingkah soalnya mati gaya... microphone nggak pegang, background seadanya, panggung seadanya, yah pokoknya serba seadanya lah. Kalau mau lihat yang nggak seadanya di Metro TV, kalau nggak salah judul acaranya "Zona 80an" tayang hari Minggu malam. Jadinya artis yang di video klipnya kalau ditonton sekarang ini jadi serba seadanya sekarang sudah up-to-date penampilannya. Jangan berharap Harry Mukti ya... sekarang sudah jadi Uztads, tapi Ita Purnamasari masih kurang lebih sama kok penampilannya, terutama poni rambutnya! Haha...

Oldies never die, saya sering bilang begitu ke teman2 saya. Koleksi lagu oldies saya lumayan banyak, tapi kebanyakan lagu2 barat. Bukan ke barat2an lho ya, masalahnya ya itu tadi: kalau lagu Indonesia yang oldies berasanya beda sama lagu barat. Kalau nggak percaya coba dengerin lagu yang judulnya "Boulevard" (yang nyanyi Dan Byrd) atau "Nothing's Gonna Change My Love for You" (yang nyanyi George Benson), habis itu setel lagu oldies Indonesia. Selamat mencoba...

Wednesday, April 29, 2009

Masihkah Kau Mencintaiku?

Sudah sekitar sebulan lebih ada peralatan elektronik tambahan di kontrakan saya yang tadinya saya pikir nggak terlalu penting buat dimiliki, alasannya kalaupun toh saya punya kapan bisa dimanfaatin soalnya setiap weekdays sampai kontrakan malam (tinggal bengong sebentar terus tidur), weekend kalau ada acara saya keluar sementara kalau nggak ada acara seharian tidur, tanggal merah begitu juga, and last but not least sudah ada notebook dari kantor yang bisa saya gunakan buat nonton DVD. Iyak betol syekale sodara-sodara, sebangsa setanah air, seplanet, se tata surya dan se-se lainnya... akhirnya saya punya TV! Sama DVD player juga! Ya belinya sih pakai dana pinjaman, ada penyandang dana baik hati yang kasih pinjaman lunak tanpa bunga dan tanpa jangka waktu pengembalian hehe... Tadinya saya pikir "mubazir punya TV kalo nggak sempat nonton" eh ternyata "enak tenan punya TV!". Dan ternyata samasekali nggak mubazir soalnya tetap sering bisa nonton, yah cuman beberapa jam dalam sehari sih, termasuk weekend dan hari libur juga cuma beberapa jam... sampai blog ini di post hobi saya tidur gila2an kalau sedang libur masih berlaku ;P

Enough with the introduction, kalau ditambahin lagi tambah nggak nyambung sama judulnya. Biasanya kalau acara TV nggak karuan (maksudnya sinetron semua... nggak usah saya tulis disini pendapat kebanyakan orang sama yang namanya "sinetron") saya sendiri nggak tau pindah-pindah channel nonton acara yang nggak jelas eh tau-tau sudah jam 01. Tapi malam tadi ada acara yang cukup menarik perhatian, I believe it's a new show... judulnya "Masihkah Kau Mencintaiku?". Hostnya Helmi Yahya sama Dian Nitami... I say Helmi Yahya is the man behind the show. Beliau ini termasuk dari jajaran beberapa nama yang sering bikin acara-acara yang "menjual", nama lainnya seperti Farhan dan siapa ya... wah kok saya cuma bisa nyebutin Farhan ya? :D Jadi acara ini nemuin pasangan suami-istri yang sudah diambang keretakan, lengkap sama keluarga masing-masing plus beberapa ahli perkawinan sama psikologi, dan ada hadiahnya, not to mention masuk TV ditonton sekian juta orang. Pertanyaannya: sudah se-terbuka-itu-kah kita? Yang saya sebut "kita" lebih spesifiknya orang Indonesia...

As we already know... beberapa waktu ini yang namanya "Reality Show" sedang ngetrend. Sudah jadi "resep" di industri TV kalau ada acara "A" ngetop nggak lama kemudian acara yang formatnya mirip bakal nongol di TV lain, atau malah di TV yang sama tapi jamnya beda... sah-sah saja soalnya production house yang bikin acaranya kan beda ;P Yang sempat heboh (dan kayaknya lumayan masih heboh) judul acaranya "Termehek Mehek", trust me I know soalnya teman dekat saya penggemar berat acara ini, not to mention ladies di kantor tempat saya bekerja penggemar berat acara ini juga. Ada yang bilang yang ikutan acara ini bego soalnya banyak orang jadi tau masalahnya dia, istilahnya mengekspos kehidupan pribadi, ada yang bilang "ahhh skenario nih, nggak beneran...". Belum lagi ada acara-acara lainnya, yang saya ingat ada yang namanya "Main Hati", malah ada yang ngerjain pacar buat testing kesabaran dan atau kesetiaan, yah pokoknya yang formatnya "Reality Show" lah. Buat saya sendiri pertanyaannya ya itu tadi... sudah se-terbuka-itu-kah kita? Yea I know the year is 2009, tapi kan adat ketimuran kita tradisinya hal-hal yang sifatnya "urusan dapur" orang tabu buat dibicarain. Well at least "tabu" di depan yang bersangkutan... suka nggak suka, diakui apa nggak, jeleknya tradisi ketimuran kita tabu di depan tapi di belakang di bahas rame-rame sama peer group (baca: temen nggosip alias bergunjing).

Kalau saya bilang sih daripada bergunjing (bahasa sononya "talking trash behind people's back") mending dibuka sekalian, ngomong blak-blakan, mau ditayangin di TV apa nggak. Daripada di depan baik (entah sok baik apa memang baik beneran) tapi di belakang nusuk... yah memang susah buat ngerubah kebiasaan soalnya ngomongin orang tuh enak apalagi kalau omongannya merendahkan orang yang diomongin itu, rasanya bikin kita jadi orag yang lebih baik (padahal nggak!). Seringnya salah pengertian bisa diatasin dengan hal yang sangat sederhana: berkomunikasi. Dan lihat sisi positifnya saja... acara-acara beginian kan maksudnya baik (semoga beneran baik ya...), jadi pihak ketiga yang berusaha membantu orang yang butuh bantuan. Soalnya seringnya konflik nggak bisa diselesaikan oleh mereka yang jadi bagian konflik tersebut, harus ada pihak luar yang membantu. Yang penting acara-acara ini di minimize efek negatifnya... gimanapun juga pasti ada kan? Lihat sisi positifnya... toh pisau bisa dipakai buat bunuh orang tapi kalau fokus ke sudut pandang itu lalu pabrik pisau ditutup jadinya kita masak pakai apa?